Bercerita
tentang Pondok Modern Darussalam Gontor
Part 1: Keikhlasan
Bagaimana
cara kita memaknai 4 sintesa Pondok, kita mungkin tidak akan pernah lupa
tentang banyak sekali nasehat yang telah disampaikan oleh setiap pimpinan Pondok
Modern Darussalam Ponorogo, ketika Khutbatul Arsy’, kuliah umum maupun Pesan
dan Nasehat sebelum perpulangan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apalagi
kalau bukan nama-nama besar diseluruh dunia yang menjadi inspirasi dari para
Trimurti dalam membangun Pondok yang tercinta ini, yaitu Al-Azhar, Aligarh,
Santiniketan dan juga Syanggit.
Pada
kesempatan kali ini kita hanya membahas tentang satu diantara banyak sekali
point yang terdapat didalam seluruh sintesa tersebut, yaitu pembahasan tentang
Al-Azhar yang diinspirasi oleh Gontor dalam hal waqaf atau keikhlasannya,
bagaimana tidak? Al-Azhar hingga saat ini terkenal sebagai salah satu kampus
tertua di dunia, dan telah mengeluarkan banyak sekali alumni yang tersebar
diseluruh dunia, hingga banyak sekali orang hebat yang terlahir disana hingga
berpengaruh sampai saat ini.
Setelah
berbagai macam penelitian oleh Ustadz Imam Zarkasyi dan melalui kunjungan
langsung ke Al-Azhar Kairo, maka beliau menemukan alasan utama kenapa Al-Azhar
bisa bertahan hingga lebih dari 400 tahun, itu tidak lain adalah karena jiwa
“WAQAF” dan “KEIKHLASAN” yang diterapkan disana. Mungkin banyak orang yang akan
bertanya, mengapa hanya karena di waqafkan Al-Azhar dapat bertahan hingga
sedemikian rupa, padahal kita semua telah mengetahui bahwa semangat Waqaf dan
Keikhlasan itulah yang sangat jarang dimiliki oleh banyak pihak saat ini.
Saat
ini, banyak kita temukan pondok pesantren atau lembaga pendidikan yang
berlandaskan pada keluarga, dan tidak lama berdiri pondok itu, setelah generasi
pertama dari pendiri pondok itu kemudian meninggal dunia, goncangan pun muncul
menghinggapi pihak keluarga. Banyak keturunan dari pendiri pondok yang disebut
sebagai generasi pertama memperebutkan kursi dan kedudukan sebagai pimpinan
pondok dan mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling layak untuk mendapatkan
hal tersebut, dan bahkan buruknya, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara
untuk meraih kekuasaan yang mungkin bagi sebagian orang mungkin tidak seberapa.
Tidak hanya dibanyak pondok pesantren yang ada
di Indonesia, namun juga telah banyak terjadi bahkan ketika dunia masih
dipegang oleh Kerajaan-kerajaan peradaban kuno sebelum Masehi, dimana kasus
perebutan tahta kekuasaan kerajaan selalu muncul disetiap sejarah Kerajaan yang
ada diseluruh Dunia, tidak hanya kerajaan kecil, namun juga kerajaan besar
seperti Romawi di Eropa Barat, Byzantium di Eropa Timur, hingga kerajaan Islam
seperti Turki Usmani pun mengalami hal yang sama.
Dan
mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang ada inilah kemudian Pendiri dari
Lembaga Pendidikan Al-Azhar kemudian berinisiatif untuk mewaqafkan tanahnya
kepada Umat dengan alasan dan niat yang mulia serta diiringi dengan Keikhlasan
yang kuat, untuk mengembalikan Pondok sebagai tempat yang netral dan dimiliki
oleh semua orang, meski mendapat tantangan pada awal mula berdirinya, karena
dianggap sama saja dengan membuang kesempatan dan menyia-nyiakan keberuntungan,
tantangan terbesar tentu datang dari pihak keluarga, namun beliau tetap tekun
dan yakin bahwa keputusan beliau dalam mewaqafkan Al-Azhar adalah keputusan
yang paling tepat. Dan Alhamdulillah berkat Rahmat dari Allah SWT dan
keikhlasan dari para pendirinya Al-Azhar telah berdiri hingga ratusan tahun
lamanya, dan hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah karena keikhlasan
dari Pendiri Pondok Al-Azhar tersebut.
Dalam
penjelasannya, Pak Habib kemudian menceritakan bahwa hal inilah yang kemudian
diinspirasi oleh KH.Imam Zarkasyi dalam membangun Pondok Modern Darussalam
Gontot, yaitu menanamkan sifat Ikhlas dan juga berjiwa Waqaf kepada Ummat agar
pondok tetap selalu ada untuk Ummat, dan pondok bukanlah milik para Kyai namun
pondok adalah milik bersama, Pak Zar sapaan akrab Pak KH.Imam Zarkasyi kemudian
menjelaskan bahwa Pondok adalah ladang perjuangan, karena itu Pondok perlu
dibela, dan perlu diperjuangkan.
Sikap
Ikhlas inilah yang selalu ditanamkan oleh beliau kepada setiap santrinya yang
berada di Pondok Modern Darussalam Gontor, ini dicerminkan dari bagaimana
santri belajar dan mengajar, santri dididik untuk menjadi pegawai kantin,
pengurus rayon, bagian dapur, dan seterusnya yang bahkan mereka semua tidak
digaji sepeserpun, namun sifat Keikhlasan inilah yang kemudian telah mendarah
daging diseluruh sanubari para Santri Pondok Modern Gontor hingga saat ini.
Dan
untuk memudahkan sirkulasi waqaf yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor,
maka kemudian dibentuklah Badan Waqaf yang khusus mengurusi Wakaf yang ada
diseluruh Indonesia bahkan Dunia ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Tidak
terasa sudah 85 tahun Gontor berdiri, para kyai terdahulu telah pergi
meninggalkan kita, namun seperti pepatah yang selalu dilontarkan oleh Pimpinan
Pondok yaitu: “Patah tumbuh hilang berganti, belum patah sudah tumbuh, belum
hilang sudah berganti” maka semangat inilah yang selalu dipegang oleh Ustadz
dan Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Bersambung
salam....molen minta marojiknya ada g,....
BalasHapus