Minggu, 26 Juli 2015

SINTESA KAMPUNG DAMAI



Bercerita tentang Pondok Modern Darussalam Gontor
Part 1: Keikhlasan
Bagaimana cara kita memaknai 4 sintesa Pondok, kita mungkin tidak akan pernah lupa tentang banyak sekali nasehat yang telah disampaikan oleh setiap pimpinan Pondok Modern Darussalam Ponorogo, ketika Khutbatul Arsy’, kuliah umum maupun Pesan dan Nasehat sebelum perpulangan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apalagi kalau bukan nama-nama besar diseluruh dunia yang menjadi inspirasi dari para Trimurti dalam membangun Pondok yang tercinta ini, yaitu Al-Azhar, Aligarh, Santiniketan dan juga Syanggit.
Pada kesempatan kali ini kita hanya membahas tentang satu diantara banyak sekali point yang terdapat didalam seluruh sintesa tersebut, yaitu pembahasan tentang Al-Azhar yang diinspirasi oleh Gontor dalam hal waqaf atau keikhlasannya, bagaimana tidak? Al-Azhar hingga saat ini terkenal sebagai salah satu kampus tertua di dunia, dan telah mengeluarkan banyak sekali alumni yang tersebar diseluruh dunia, hingga banyak sekali orang hebat yang terlahir disana hingga berpengaruh sampai saat ini.
Setelah berbagai macam penelitian oleh Ustadz Imam Zarkasyi dan melalui kunjungan langsung ke Al-Azhar Kairo, maka beliau menemukan alasan utama kenapa Al-Azhar bisa bertahan hingga lebih dari 400 tahun, itu tidak lain adalah karena jiwa “WAQAF” dan “KEIKHLASAN” yang diterapkan disana. Mungkin banyak orang yang akan bertanya, mengapa hanya karena di waqafkan Al-Azhar dapat bertahan hingga sedemikian rupa, padahal kita semua telah mengetahui bahwa semangat Waqaf dan Keikhlasan itulah yang sangat jarang dimiliki oleh banyak pihak saat ini.
Saat ini, banyak kita temukan pondok pesantren atau lembaga pendidikan yang berlandaskan pada keluarga, dan tidak lama berdiri pondok itu, setelah generasi pertama dari pendiri pondok itu kemudian meninggal dunia, goncangan pun muncul menghinggapi pihak keluarga. Banyak keturunan dari pendiri pondok yang disebut sebagai generasi pertama memperebutkan kursi dan kedudukan sebagai pimpinan pondok dan mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling layak untuk mendapatkan hal tersebut, dan bahkan buruknya, tidak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan yang mungkin bagi sebagian orang mungkin tidak seberapa.
 Tidak hanya dibanyak pondok pesantren yang ada di Indonesia, namun juga telah banyak terjadi bahkan ketika dunia masih dipegang oleh Kerajaan-kerajaan peradaban kuno sebelum Masehi, dimana kasus perebutan tahta kekuasaan kerajaan selalu muncul disetiap sejarah Kerajaan yang ada diseluruh Dunia, tidak hanya kerajaan kecil, namun juga kerajaan besar seperti Romawi di Eropa Barat, Byzantium di Eropa Timur, hingga kerajaan Islam seperti Turki Usmani pun mengalami hal yang sama.
Dan mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang ada inilah kemudian Pendiri dari Lembaga Pendidikan Al-Azhar kemudian berinisiatif untuk mewaqafkan tanahnya kepada Umat dengan alasan dan niat yang mulia serta diiringi dengan Keikhlasan yang kuat, untuk mengembalikan Pondok sebagai tempat yang netral dan dimiliki oleh semua orang, meski mendapat tantangan pada awal mula berdirinya, karena dianggap sama saja dengan membuang kesempatan dan menyia-nyiakan keberuntungan, tantangan terbesar tentu datang dari pihak keluarga, namun beliau tetap tekun dan yakin bahwa keputusan beliau dalam mewaqafkan Al-Azhar adalah keputusan yang paling tepat. Dan Alhamdulillah berkat Rahmat dari Allah SWT dan keikhlasan dari para pendirinya Al-Azhar telah berdiri hingga ratusan tahun lamanya, dan hal tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah karena keikhlasan dari Pendiri Pondok Al-Azhar tersebut.
Dalam penjelasannya, Pak Habib kemudian menceritakan bahwa hal inilah yang kemudian diinspirasi oleh KH.Imam Zarkasyi dalam membangun Pondok Modern Darussalam Gontot, yaitu menanamkan sifat Ikhlas dan juga berjiwa Waqaf kepada Ummat agar pondok tetap selalu ada untuk Ummat, dan pondok bukanlah milik para Kyai namun pondok adalah milik bersama, Pak Zar sapaan akrab Pak KH.Imam Zarkasyi kemudian menjelaskan bahwa Pondok adalah ladang perjuangan, karena itu Pondok perlu dibela, dan perlu diperjuangkan.
Sikap Ikhlas inilah yang selalu ditanamkan oleh beliau kepada setiap santrinya yang berada di Pondok Modern Darussalam Gontor, ini dicerminkan dari bagaimana santri belajar dan mengajar, santri dididik untuk menjadi pegawai kantin, pengurus rayon, bagian dapur, dan seterusnya yang bahkan mereka semua tidak digaji sepeserpun, namun sifat Keikhlasan inilah yang kemudian telah mendarah daging diseluruh sanubari para Santri Pondok Modern Gontor hingga saat ini. 
Dan untuk memudahkan sirkulasi waqaf yang ada di Pondok Modern Darussalam Gontor, maka kemudian dibentuklah Badan Waqaf yang khusus mengurusi Wakaf yang ada diseluruh Indonesia bahkan Dunia ke Pondok Modern Darussalam Gontor. Tidak terasa sudah 85 tahun Gontor berdiri, para kyai terdahulu telah pergi meninggalkan kita, namun seperti pepatah yang selalu dilontarkan oleh Pimpinan Pondok yaitu: “Patah tumbuh hilang berganti, belum patah sudah tumbuh, belum hilang sudah berganti” maka semangat inilah yang selalu dipegang oleh Ustadz dan Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Bersambung

1 komentar: