Selasa, 24 Februari 2015

Tantangan Liberalisme di kalangan Muslim saat ini





Pengajian di Masjid Jogokariyan oleh PKU Gontor
Synopsis:
Dewasa ini, kita telah dijauhkan dari peradaban Islam, dijauhkan dari mengenal Allah SWT. Hal ini dikarenakan menurut berbagai sejarah mengemuka bahwa Islam adalah penentang terberat yang dimiliki oleh kaum barat, Islam satu-satunya golongan dan agama yang berani memboikot pembelajaran akidah sesat serta pola pikir barat yang lebih banyak kepada hal yang merugikan Islam. Hingga pada akhirnya mereka mencari cara agar Islam dapat dengan mudah mereka singkirkan. Mereka pun memulai strateginya dengan memasuki anak muda dan kalangan mahasiswa yang menurut mereka dikenal sebagai golongan pemikir yang masih mencari jati diri dan mudah dipengaruhi  oleh keadaan.
Merekapun diberikan beasiswa ke luar negeri khususnya Negara-negara Barat, dan mengenal lebih jauh kehidupan Keislaman disana, tetapi disitulah strategi mereka awal mula bermulai, pemikiran Barat yang menentang Islam diaplikasikan dan ditularkan melalui materi perkuliahan yang menyebutkan bahwa Islam saat ini harus disesuaikan dengan konteks kekinian, tidak lagi hanya berpatokan kepada Al-Qur’an dan As Sunnah yang notabene nya adalah kitab kuno dan hanya sebagian dari kitab suci itu dapat digunakan dalam konsep kekinian di dunia Islam.
Perubahan pola pikir tidak hanya muncul dari para kalangan Muslim yang menuntut ilmu Islam dinegara Barat, tetapi juga merambak ke beberapa Instansi dan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia yang dengan terang-terangan mengemukakan pemikiran liberal  mereka. Hal ini berawal dan berdasarkan pada dank arena kita telah dijauhkan dan dilupakan untuk mengenal Al-Qur’an dan As-Sunnah, mereka membongkar Tafsiran Al-Qur’an dan Al-Hadits melalui Teori Hermeneutics, mereka membentuk Islam yang menurut mereka lebih Humanis, menjunjung tinggi HAM, lebih sekuler dan lebih kekinian agar tidak dianggap sebagai agama yang monoton serta tradisional. Dalam menghadapi permasalahan yang pelik ini, bagaimanakah cara kita untuk menghindari hal itu? Pada pembahasan kali ini Ustadz Ayyub dari PKU akan sedikit menjelaskan tentang isu yang berkembang pesat saat ini di Masyarakat, yaitu LGBT.
LGBT ON ISLAMIC PERSPECTIVE & ISLAMIC THEOLOGY
Semua rekan-rekan disini pasti mengenal Film GGS (Ganteng-Ganteng Serigala) yang lagi marak menjadi idola dikalangan anak muda dan Mahasiswa karena mereka menganggap para artis dan pemainnya ganteng dan cantik. Tapi pernahkah kita memantau fenomena dimasyarakat yang mengatakan bahwa GGS adalah Plagiat yang gagal, karena berusaha untuk mencontoh film Twilight yang diperankan oleh para pemain Box Office terkenal, padahal di Barat sendiri masih banyak kritikan yang mencemooh film Twilight dengan muncul tulisan “Still better than Twilight”. Ini kemudian menjadi sebuah hipotesa menarik yang mengatakan bahwa semua hal yang diadaptasi dari Barat pasti akan selalu menuai kritik dan tidak cocok diterapkan disuatu Negara, apalagi Negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.
Berawal dari sejarah kolonialisme yang berkembang di Indonesia, pada saat Belanda menjajah Indonesia mereka memiliki sebuah slogan 3G (God, Glory dan Gospel) sebagai ajang mereka dalam menyebarkan agama Kristen di Nusantara, serta paham Materialisme dikalangan para Raja Nusantara yang kemudian terhasut dan akhirnya melakukan perang saudara. Tetapi teori 3G pada konteks kekinian sudah tidak dapat diaplikasikan karena kehidupan beragama sudah dibebaskan dan diatur oleh Undang-Undang.
Tiada kata menyerah untuk menyerang Muslim dan menghancurkan mereka adalah tugas pokok utama para pemikir liberal Barat, yang selalu menganggap Islam sebagai ancaman terbesar bagi golongan mereka, karena Islam dikenal gigih dan kuat jika harus dijinakkan dengan kekuatan, maka sekarang mereka memikirkan cara untuk mengalahkan Muslim tanpa menggunakan kekerasan, akhirnya mereka pun menggunakan cara licik dengan menyusupkan para mata-mata mereka dikalangan Muslim dan menyebarkan paham Sekulerisme melalui isu HAM ditengah tengah masyarakat dengan alasan yang sangat rasional, dan salah satu yang saat ini berkembang adalah isu LGBT yang oleh para pemikir Islam Liberal yang ada diseluruh dunia bahkan Indonesia adalah legal dan disahkan oleh Negara.
Fenomena LGBT memang suatu hal yang menarik untuk dibahas, karena bisaa jadi mereka ada disekitar kita, bagaimana cara kita untuk bersikap terhadap mereka, apakah mereka penyakit? Ataukah mereka harus kita kucilkan? Dimana hati nurani kita sebagai sesame manusia? Mereka juga memiliki hak yang sama dengan kita, dan biasanya pertanyaan diatas adalah pertanyaan yang paling sering dimunculkan oleh para kalangan aktifis LGBT. Dikoran-koran banyak kita temukan informasi terkait mereka seperti contoh di Kompas.com dijelaskan bahwa ada 3 juta orang telah melakukan seks sejenis, dan beberapa informasi di media cetak dan social juga mengkhawatirkan hal ini, meski banyak menuai kritik tetapi mereka juga mendapat banyak dukungan, khususnya oleh para aktifis HAM, tetapi bagaimanakah cara mereka untuk bertahan (Survive) dan terus berkembang di Indonesia dan Negara lainnya?
·         Merangkul Kaum Intelektual: Mereka adalah sasaran empuk golongan LGBT, karena selain masih muda dan dalam tahap pencarian jati diri, kaum intelektual memiliki andil besar dalam peradaban suatu Negara, mereka golongan yang paling sering dan paling berani menyuarakan hak dan aspirasi mereka kepada lembaga Negara dalam masalah penegakan hukum, LGBT masuk dan menyusup keranah mereka dan memberikan rasa aman dan nyaman dalam melakukan hal ini selama memiliki rasa suka sama suka maka Negara tidak berhak untuk melarang hal tersebut.
·         Jalur Politik: Sebagian besar hingga jutaan kelompok LGBT diseluruh Indonesia menuntut dibuatkan serta disahkannya Undang-Undang Pernikahan Sejenis yang mengatur kebebesan mereka dalam berekspresi serta berhubungan. Bagi kita kalangan muslim jangan sampai terbuai dengan rayuan mereka hingga ikut mendukung golongan ini, karena bisa jadi, jika UU ini jadi disahkan, maka bisa dipastikan inilah awal kehancuran moral dan akhlaq bangsa ini. Naudzubillah min Dzalik.
·         Kebudayaan: seperti yang sudah saya sampaikan diatas bahwa salah satu cara mereka dalam menyebarkan paham LGBT adalah dengan cara mengadopsi pengaruh barat dan diterapkan di Negara-negara Timur seperti Indonesia melalui berbagai hiburan dan kegiatan. Sebagai contoh, The Legend of Avatar Korra yang banyak digemari oleh para kalangan muda tidak hanya anak kecil tetapi juga para remaja dan dewasa, tetapi dibalik semua itu Korra mengajarkan kita bahwa Hidup Lesbi dengan Asami adalah lebih baik daripada berhubungan dengan laki-laki yang terus menyakiti perasaannya, karena bagi nya, cinta adalah saat kita merasa nyaman untuk berada didekatnya.
·         Teologis: melalui kajian ilmu Ketuhanan inilah para golongan pengemuka LGBT menjelaskan bahwa agama-agama di dunia ini didasari oleh Hak Asasi Manusia sehingga tidak ada paksaan dalam setiap tindakan yang kita lakukan selama itu tidak mengganggu aktifitas kegiatan kegaamaan dan social lainnya, bagi mereka menekankan dalam unsur teologi bahwa kebahagiaan tidak mesti didapat melalui pernikahan atau hubungan dengan lawan jenis, karena faktanya banyak juga kehidupan yang tidak harmonis meski menikah dengan lawan jenis dan sebaliknya, banyak kalangan menikah sejenis dan mendapatkan kebahagiaan mereka disana, akankah kebahagiaan harus dipaksakan? Bukankah agama didunia ini menyeru agar kita semua mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat? Maka dengan alasan inilah pemuka LGBT mengambil jalur Teologi sebagai sasaran mereka untuk bertahan.
·         Lembaga Internasional: melalui sarana ini mereka mengemukakan hak mereka untuk hidup, hak mereka untuk berekspresi melalui berbagai demonstrasi, melalui berbagai workshop hingga kegiatan social yang dilandaskan pada keinginan mereka untuk disetarakan atau Equality of Life.
Bagaimana kemudian Islam menyikapi hal ini?
Islam merupakan penghalang utama bagi penyebaran paham LGBT diseluruh dunia, mereka sudah memastikan bagaimana Islam melihat mereka dan bagaimana cara mereka untuk menyingkirkan Islam dan golongannya dalam menentang mereka, akhirnya mulailah mereka mengacaukan paham Islam melalui pemahaman para pemikirnya dan penggunaan Tafsir Hermeneutics pada Al Qur’an dan As Sunnah.
Selain itu Islam juga telah didahului dan kalah langkah dalam pencegahan mereka masuk ke dunia social berkat dukungan Barat dalam merevisi buku rumusan SDM (yang dalam kalangan Psikolog) buku ini merupakan kitab suci, karena didalam buku inilah ciri-ciri manusia yang bisa dikatakan abnormal, dan setelah beberapa revisi kini kata LGBT bukanlah lagi hal yang abnormal melainkan suatu kewajaran.
Islam dikalahkan dalam beberapa decade terakhir, hingga ilmu pengetahuan yang telah ditemukan oleh para pemikir Islam terdahulu kini telah disabotase oleh Kaum Kafir yang kemudian menulis ulang sejarah bahwa pusat ilmu pengetahuan berawal dari Barat, sehingga disiplin ilmu pengetahun harus berdasakan pada “Western world view”, adapun paham yang muncul dengan adanya cara pandang ini, diantaranya adalah Paham Sekulerisme, Paham Ever-Shifting dan Paham Anthroposentris.
Padahal mereka juga banyak menuai kritik, khususnya dari para kalangan Dokter medis dan psikolog Barat, melalui penelitian yang dilakukan oleh Dr, N. Whitehead yang meneliti hal ini dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun mengemukakan bahwa Psikologi dan pandangan mereka atau lebih tepatnya penyakit mereka bisa disembuhkan. Jadi jika ada kalangan LGBT yang mengatakan bahwa penyakit mereka adalah hal yang sudah diciptakan dari Lahir sehingga tidak dapat disembuhkan maka hal itu semua adalah sebuah kebohongan besar, karena faktor utama pemicu perbuatan dan kelainan psikis itu adalah lingkungan.
Selain itu, dampak buruk yang ditimbulkan oleh para golongan LGBT adalah maraknya penyebaran Penyakit paling mematikan didunia yaitu, AIDS, karena penelitian telah membuktikan bahwa jutaan kasus AIDS diseluruh dunia dilakukan oleh para pasangan sejenis yang melakukan hubungan layaknya suami-istri.
Islam melihat dan menjelaskan hubungan homoseksual ini telah dijelaskan pada surah Al A’raf 80-82 serta Surah Hud 76-81
$»Ûqä9ur øŒÎ) tA$s% ÿ¾ÏmÏBöqs)Ï9 tbqè?ù's?r& spt±Ås»xÿø9$# $tB Nä3s)t7y $pkÍ5 ô`ÏB 7tnr& šÆÏiB tûüÏJn=»yèø9$# ÇÑÉÈ   öNà6¯RÎ) tbqè?ù'tGs9 tA$y_Ìh9$# Zouqöky­ `ÏiB Âcrߊ Ïä!$|¡ÏiY9$# 4 ö@t/ óOçFRr& ×Pöqs% šcqèù̍ó¡B ÇÑÊÈ   $tBur šc%Ÿ2 z>#uqy_ ÿ¾ÏmÏBöqs% HwÎ) br& (#þqä9$s% Nèdqã_̍÷zr& `ÏiB öNà6ÏGtƒös% ( öNßg¯RÎ) Ó¨$tRé& tbr㍣gsÜtGtƒ ÇÑËÈ  
80. and (remember) Lout (Lot), when He said to his people: "Do You commit the worst sin such as none preceding You has committed In the 'Alamîn (mankind and jinns)?
81. "Verily, You practise Your lusts on men instead of women. Nay, but You are a people transgressing beyond bounds (by committing great sins)."
82. and the answer of his people was Only that they said: "Drive them out of Your town, These are indeed men who want to be pure (from sins)!"

ãLìÏdºtö/Î*¯»tƒ óÚ͏ôãr& ô`tã !#x»yd ( ¼çm¯RÎ) ôs% uä!%y` âöDr& y7În/u ( öNåk¨XÎ)ur öNÍkŽÏ?#uä ë>#xtã çŽöxî 7ŠrߊósD ÇÐÏÈ   $£Js9ur ôNuä!%y` $uZè=ßâ $WÛqä9 uäûÓÅ öNÍkÍ5 s-$|Êur öNÍkÍ5 %YæösŒ tA$s%ur #x»yd îPöqtƒ Ò=ŠÅÁtã ÇÐÐÈ   ¼çnuä!%y`ur ¼çmãBöqs% tbqããtökç Ïmøs9Î) `ÏBur ã@ö7s% (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÏN$t«ÍhŠ¡¡9$# 4 tA$s% ÉQöqs)»tƒ ÏäIwàs¯»yd ÎA$uZt/ £`èd ãygôÛr& öNä3s9 ( (#qà)¨?$$sù ©!$# Ÿwur ÈbrâøƒéB Îû þÏÿø|Ê ( }§øŠs9r& óOä3ZÏB ×@ã_u ÓÏ©§ ÇÐÑÈ   (#qä9$s% ôs)s9 |M÷HÍ>tã $tB $uZs9 Îû y7Ï?$uZt/ ô`ÏB 9d,ym y7¯RÎ)ur ÞOn=÷ètGs9 $tB ߃̍çR ÇÐÒÈ   tA$s% öqs9 ¨br& Í< öNä3Î/ ¸o§qè% ÷rr& üÍr#uä 4n<Î) 9`ø.â 7ƒÏx© ÇÑÉÈ   (#qä9$s% äÞqè=»tƒ $¯RÎ) ã@ßâ y7În/u `s9 (#þqè=ÅÁtƒ y7øs9Î) ( ÎŽó r'sù šÏ=÷dr'Î/ 8ìôÜÉ)Î/ z`ÏiB È@ø©9$# Ÿwur ôMÏÿtGù=tƒ öNà6ZÏB îtnr& žwÎ) y7s?r&zöD$# ( ¼çm¯RÎ) $pkâ:ÅÁãB !$tB öNåku5$|¹r& 4 ¨bÎ) ãNèdyÏãöqtB ßxö6Á9$# 4 }§øŠs9r& ßxö6Á9$# 5=ƒÌs)Î/ ÇÑÊÈ  
76. "O Ibrahîm (Abraham)! forsake this. indeed, the Commandment of Your Lord has gone forth. Verily, there will come a torment for them which cannot be turned back."
77. and when Our Messengers came to Lout (Lot), He was grieved on their account and felt himself straitened for them (lest the town people should approach them to commit sodomy with them). He said: "This is a distressful Day."
78. and his people came rushing towards him, and since aforetime they used to commit crimes (sodomy, etc.), He said: "O My people! here are My daughters (i.e. the daughters of My nation), they are purer for You (if You marry them lawfully). so fear Allâh and degrade Me not as regards My guests! is there not among You a single right-minded man?"
79. they said: "Surely You know that we have neither any desire nor In need of Your daughters, and indeed You know well what we want!"
80. He said: "Would that I had strength (men) to overpower you, or that I could betake myself to some powerful support (to resist You)."
81. they (Messengers) said: "O Lout (Lot)! Verily, we are the Messengers from Your Lord! they shall not reach You! so travel with Your family In a part of the night, and let not any of You look back, but Your wife (will remain behind), Verily, the punishment which will afflict them, will afflict her. indeed, morning is their appointed time. is not the morning near?"
Kesimpulan:
Fenomena LGBT bukanlah barang baru di Masyarakat, dia merupakan sumber penyakit yang disembunyikan dengan sempurna oleh para kalangan Liberalisme untuk mengoyak Islam dari dalam untuk berpikir rasio dan sekuler serta melupakan Islam yang Tradisional, hal itu semua didasari oleh paham HAM, padahal Islam sendiri mengenal HAM yang jauh lebih manusiawi, yang tidak hanya melihat pada kebebasan dan kemanusiaan tetapi juga melihat pada konteks akhlaq, moralitas serta norma-norma bermasyarakat serta hidup bersosial, banyak kalangan liberal yang mengatakan bahwa alasan mengapa Kaum nabi Luth di Azab demikian, bukanlah karena mereka melakukan aksi sodomi atau homoseksual, tetapi karena ketidak patuhan mereka pada nabi mereka yaitu Luth as. Padahal sudah sangat jelas dijelaskan dalam Tafsir Qurtubi akan penyebab runtuhnya kaum Luth, yaitu karena perbuatan mereka yang homoseksual.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Sumber: Pengajian Indonesia Tanpa JIL oleh para Ulama dari PKU (Pendidikan Kader Ulama) Universitas Islam Darussalam Gontor. Di Masjid Jogokariyan, 22 Februari 2015



Tidak ada komentar:

Posting Komentar