100 hubungan yang berpengaruh di dalam sejarah dunia
Tokoh Sosialis-Komunis
Karl Marx (1818-1883) – Friedrich Engels
(1820-1895)
2 pria Jerman yan
bertanggung jawab untuk mempromosikan system ekonomi yang mengakibatkan
revolusi abad ke-20 yang kejam bertemu ketika keduanya masih muda di Prancis.
Friedrich
Engels lahir di Bremen, Jerman. Ayahnya yang kaya memiliki
sebuah pabrik tekstil dan sebidang perkebunan kapas di Inggris. Friedrich tidak
mengecap bangku kuliah karena ia diharapkan akan memasuki bisnis keluarga. Akan
tetapi, sementara ia mulai sendiri di banyak bidang, ia mulai kurang
mempercayai system kapitalis yang membuat keluarganya berhasil. Ia lebih
menerima sebuah sistem yang menganjurkan filosofi “berbagi kekayaan”.
Begitu Marx dan Engels
bertemu, mereka menjadi akrab. Tak putus-putusnya mereka berbicara tentang
hasrat mereka untuk sebuah dunia yang lebih baik dan perlunya mendidik rakyat
tentang sifat dasar perbudakan yang mereka jalani dari segi ekonomi. Kolaborasi
mereka yang pertama adalah beberapa artikel untuk sebuah buku yang disunting
oleh Marx di Paris tahun 1844. Tahun berikutnya, Marx diusir dari kota tersebut
karena kontribusinya bagi sebuah majalah radikal. Ia pindah ke Belgia, di mana
ia menetap selama tiga tahun di negara tersebut, Engels langsung bergabung.
Tahun 1848, Marx dan
Engels menghasilkan karya mereka yang paling terkenal, The Communist
Manivesto. Diterbitkan dalam beberapa Bahasa dan mempunyai sirkulasi yang
luas, majalah tersebut menggambarkan doktrin paham sosialisme modern, termasuk
penghapusan hak-hak tanah milik dan warisan, dan kepemilikan negara atas
sarana-sarana transportasi serta komunikasi.
Tahun 1848, kedua sahabat
itu pergi ke Cologne, Jerman, di mana mereka melanjutkan kolaborasinya. Mereka
mendirikan sebuah surat kabar politik yang revolusioner yang langsung mendapat
tekanan, Marx diadili dengan tuduhan berkhianat, dan sekalipun ia kemudian
dibebaskan dari hukuman, ia dipaksa meninggalkan Jerman.
Marx pindah ke London,
Inggris, dimana ia menghabiskan sisa hidupnya. Ia terus belajar dan menulis
untuk berbagai penerbitan. Sepanjang tahun-tahun ini, ia dan kekasihnya yang
setia hidup papa. Sebagian besar hidupnya ditunjang oleh Engels dan
sahabat-sahabat lain maupun sanak saudaranya. Engels menetap di Manchester di
mana ia hidup makmur seorang pebisnis sambal mempromosikan komunisme.
Karya agung Marx yang
terakhir adalah Das Kapital (1867), sebuah analisis mengenai kapitalisme
ekonomi yang mendasar. Setelah kematian Marx tahun 1883, Engels terus
menyunting tulisan-tulisan Marx yang belum diterbitkan dan menerbitkan
karya-karyanya sendiri. Engels meninggal tahun 1895.
Mereka berdua adalah
tokoh Komunis yang paling berpengaruh, dan dampaknya pada masyarakat bahkan
masih dapat kita rasakan saat ini, bagaimana beberapa negara di Amerika Latin
seperti Kuba, Venezuela juga Ekuador sangat menentang sistem Kapitalis yang
selalu diagungkan oleh kaum Liberal di seluruh dunia. Namun dibalik hal itu
tidak dapat dipungkiri pula bahwa dalam pelaksanaannya terjadi banyak
kekejaman, kekerasan atau bahkan pembantaian yang terjadi di banyak negara
komunis seperti di Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao Ze Dong, atau Uni Soviet
di bawah kepemimpinan Vladimir Lenin dan Leon Trotsky yang akan kita bahas pada
pembahasan selanjutnya.
Tokoh Revolusi Komunis di Rusia
Vladimir Lenin (1870-1924) – Leon Trotsky
(1879-1940)
2 orang pria ini
bertanggung jawab atas revolusi Komunis yang terjadi di Rusia, dan di samping
itu, mereka berdua adalah orang-orang buangan dari tanah air mereka ketika
mereka bertemu di London persis pada awal abad ke-20.
Vladimir
Ilich Ulyanov adalah nama asli dari Lenin yang lahir
pada tahun 1870 di Rusia. Ia menggunakan nama Lenin sejak tahun 1901. Sebuah
tragedi yang telah merubah hidupnya adalah ketika kakak laki-lakinya dihukum
mati oleh pemerintahan Tsar pada tahun 1888, hingga akhirnya ia memutuskan
untuk menjadi seorang Revolusioner. Ketika ia meraih gelar sarjana hokum tahun
1891, ia sudah menjadi pengikut paham Marxisme. Sesudah keterlibatannya dalam
aktivitas-aktivitas subversive di Siberia selama dua tahun, ia dibuang ke
bagian barat Eropa. Ketika Tsar Nicholas II digulingkan pada bulan Maret 1917.
Lenin pergi ke Rusia atas usahanya sendiri, dan menjelang bulan Oktober, ia dan
para pendukungnya sudah mengendalikan Revolusi. Di antara sekutu-sekutunya yang
paling akrab adalah Leon Trotsky.
Lev
Davidovich Bronstein lahir tahun 1879 di Ukraina, yang
kemudian menjadi bagian Rusia. Tahun 1902, ia menggunakan nama Leon Trotsky.
Ketika menjadi mahasiswa tahun 1896, ia mulai menerima pandangan paham
sosialisme dan marxisme, dan tahun 1898 ia ditangkap karena terlibat
aktivitas-aktivitas revolusioner. Ia tinggal di Siberia selama empat tahun,
tetapi melarikan diri tahun 1902 dan berusaha sendiri pergi ke London di mana
ia bergabung dengan lingkaran Komunis yang dipimpin oleh Lenin.
Lenin maupun Trotsky
melihat revolusi Rusia sebagai sebuah momen yang memberi peluang besar untuk
melahirkan komunisme berskala dunia. Trotsky sedang berada di New York ketika
Tsar digulingkan. Ia kembali ke Rusia pada bulan Mei. Ia bergabung dengan faksi
Komunis yang dipimpin oleh Lenin, dan pada bulan November, Trotsky sudah
menjalankan peran sebagai pemimpin militer dalam Revolusi itu.
Lenin mengambil alih pemerintahan
sebagai seorang dictator. Trotsky mengorganisasi Pasukan Merah yang
baru, dan menjelang tahun 1920, ia memimpin pasukan tersebut meraih kemenangan
atas Pasukan Putih anti-Komunis. Pada saat itu, Trotsky mulai berkonsentrasi
untuk membenahi ekonomi Rusia. Perpecahan terjadi di Rusia antara mereka yang
menginginkan negara Komunis baru yang mengizinkan lebih banyak partisipasi
demokratis dan mereka yang ingin mempertahankan semua kekuasaan berada di
tangan partai Komunis. Lenin sangat berkomitmen untuk menjalankan pemusatan
otoritas. Trotsky cenderung menginginkan pendekatan yang lebih moderat, tetapi
akhirnya ia berpihak kepada Lenin. Walaupun tidak selalu sependapat secara
penuh, keduanya bekerja sama dengan akrab, terutama setelah kesehatan Lenin
mulai merosot tahun 1922.
Sementara itu, ada
seorang tokoh Komunis lain yang muncul sebagai pemimpin, yaitu Joseph
Stalin. Sebelum meninggal tahun 1924, Lenin memperingatkan bahwa Trotsky
dan Stalin akan berada di jalur yang bertentangan atau berbenturan. Dan ini
terbukti dengan dengan Stalin memaksa Trotsky masuk ke pengasingan tahun 1928,
dan mengendalikan negara Soviet yang baru di bentuk. Trotsky kemudian tidak
tahan dengan tindakan yang dilakukan oleh Stalin, hingga ia memutuskan pindah
ke Meksiko dimana ia menulis sejarah Revolusi dan membuat pengaduan bernada
tajam berkaitan dengan pemerintahan Stalin, hingga pada tahun 1940, seorang
polisi yang atas izin dan perintah dari Joseph Stalin telah membunuh Trotsky.
Dapatlah kemudian ditarik
kesimpulan, bahwa Komunisme tidak sepenuhnya memahami paham Sosialisme, karena
pada prakteknya Komunis justru hanya melahirkan pemimpin keras dan bertangan
besi dengan gaya kepemimpinan Diktatorship, maka tidak salah jika beberapa dari
mereka pun akan dimangsa oleh orang-orang yang sepemahaman dengan mereka, tidak
sedikit dari mereka yang bahkan menjadi tokoh revolusi pada waktu mudanya dan
ketika mereka berada di puncak mereka mulai dimusuhi dan sebagian bahkan
terbunuh oleh bawahan mereka sendiri yang tidak suka dengan gaya kepemimpinan
mereka atau dianggap mengancam stabilitas popularitas suatu tokoh masyarakat.
Dan edisi komunis pada kesempatan kali ini akan diakhiri dengan hubungan salah
satu revolusi Komunis China Mao Tse-tung dan Chou En-lai pada abad ke-20.
Komunisme di Asia Timur
Mao Tse-tung (1893-1976) – Chou En-lai
(1898-1976)
Aliansi politik antara
keduanya menghadirkan paham komunisme dan revolusi di China pada abad ke-20.
Putra seorang
Petani, Mao Tse-tung lahir di desa Shao Shan tahun 1893, tahun 1911, ia menjadi
anggota pasukan revolusioner semasa pemberontakan melawan Dinasti Manchu. Tahun
1920, ia menjadi penganut paham Marxisme, dan tahun 1921 ia termasuk salah satu
pendiri Partai Komunis China. Tahun 1927, pemimpin Partai Nasionalis China Kai-shek
bersama para pendukungnya ke bagian tenggara China daratan.
Chou En-lai
lahir dalam sebuah keluarga menengah atas di Huaian pada tahun 1898. Ia
mendapat pendidikan di China, dan kemudian pergi ke Jepang dan Prancis. Ketika
berada di Paris, ia terpengaruh oleh gagasan-gagasan Marxisme dan ia pun
menjadi Komunis. Ia kembali ke China tahun 1920-an, dan pengikut Partai komunis
terpecah tahun 1927, Chou bergabung dengan pendukung Mao.
Sejak awal hubungan
mereka, Mao dan Chou bekerja sama dengan erat. Chou menggantikan Mao sebagai
kepala departemen di Pasukan Merah tahun 1932, dan semasa perang saudara antara
Nasionalis dan Komunis. Chou berperan sebagai ketua juru runding. Sekalipun
perannya penting, penampilan Chou tetap dianggap nomer 2. Ketika Nasionalis
memaksa Komunis untuk mengosongkan provinsi Kiangsi tahun 1934, adalah mao yang
menjadi legenda instan di kalangan rakyat China untuk memimpin Pasukan Merah
dalam Perjalanan Panjang Penuh rintangan, sejauh 9.600 kilometer menuju
bagian utara China.
Mao dan Chou tidak
terlibat perang China-Jepang (1937-1945), dan seusai perang dunia II, ketika
pasukan Jepang diusir dari China, kedua pria itu sekali lagi memimpin Partai
Komunis melawan Partai Nasionalis. Tahun 1949, pasukan-pasukan mao memaksa kaum
Nasionalis pimpinan Chiang untuk lari ke pulau Taiwan; China kemudian menjadi
negara Komunis.
Mao menjadi Ketua dari
Republik Rakyat China yang baru tersebut; Chou menjadi menteri luar negeri dan
juru bicara utama menyangkut kebijakan luar negeri. Ia mengunjungi banyak negara
untuk menjalin hubungan yang stabil antara China dengan negara-negara lain.
Sementara itu, Mao menjalankan kebijakan dalam negeri. Ia merencanakan Loncatan
Besar ke depan pada tahun 1950-an, membuat rancangan untuuk meningkatkan
produksi di bidang industry, dan Revolusi Budaya tahun 1960-an, sebuah
program yang kontroversial dan menyingkirkan banyak pejabat partai serta
menghancurkan banyak aspek budaya.
Tahun 1971, Chou
merancang sebuah kunjungan rahasia ke Beijing oleh Menteri Luar Negeri Amerika
Serikat Henry Kissinger; ini membuka jalan bagi kunjungan Presiden Nixon ke
China tahun 1972. Semasa kunjungan ini, Nixon bertemu dengan Mao dalam sejumlah
pembicaraan rahasia, dan setiap hari ia mengadakan pertemuan dengan Chou.
Kunjungan tersebut membuka pintu untuk hubungan-hubungan yang lebih baik antara
Amerika Serikat dan China.
Chou En-lai meninggal
dunia pada bulan Januari 1976. Sementara itu, Mao meninggal pada bulan
September tahun yang sama. Bersama-sama, mereka mengubah wajah China pada pauh
kedua abad ke-20.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar